H. Shobri M. Syafi'i, LcDiantara tanggung jawab besar yang jelas diperhatikan dan disoroti oleh Islam juga oleh penalaran logika, adalah tanggung jawab seorang pendidik terhadap orang-orang yang berada di pundaknya, berupa tanggung jawab pengajaran, bimbingan dan pendidikan. Ini sesungguhnya bukan tanggung jawab kecil dan ringan, karena telah dituntut sejak seorang anak dilahirkan hingga ia mencapai usia remaja, bahkan sampai ia menginjak usia dewasa yang sempurna.

Seorang pendidik, baik guru, ayah ibu, maupun tokoh masyarakat, ketika melaksanakan tanggung jawabnya secara sempurna, penuh dengan rasa amanat, kesungguhan serta sesuai dengan petunjuk Islam, maka sesungguhnya ia telah mengarahkan segala usahanya untuk membentuk individu yang penuh dengan kepribadian dan keistimewaan. Ia juga sesungguhnya telah ikut andil dalam membentuk keluarga saleh yang penuh dengan kepribadian dan keistimewaan diatas. Dengan demikian, baik disadari maupun tidak, ia telah ikut mengambil bagian penting dalam membangun masyarakat ideal. Inilah logika Islam dalam menciptakan kemaslahatan.

 

Kalau kita teliti ayat-ayat Al Qur'an Al Karim maupun hadis-hadis Rasulullah Saw. yang menganjurkan kepada para pendidik untuk melaksanakan tangggung jawab mereka dan memperingatkan mereka manakala melalaikan tanggung jawabnya itu.

 

Diantara ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya" (QS Thaha: 32)

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (QS At Tahrim: 6)

"Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan" (QS An Nahl: 93)

"Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu..."(QS An Nisa': 11)

"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh."(QS Al Baqarah: 233)

Hadis

Diantara hadis-hadis yang berkenaan dengan persoalan ini adalah sebagai berikut:

"Seorang laki-laki (suami) adalah pemimpin di dalam keluarganya dan ia bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya itu. Dan seorang wanita (istri) adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan ia bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya itu." (HR.Bukhari dan Muslim)

"Seorang yang mendidik anaknya itu lebih baik daripada bersedekah satu sha'."(HR. At Tirmidzi)

"Seorang ayah tidak pernah memberi kepada anaknya sesuatu yang lebih baik dari pada adab yang mulia." (HR. At Tirmidzi)

" Ajarkanlah kebaikan kepada anak-anak kamu dan keluarga kamu dan didiklah mereka" (HR. Abdur Razzaq dan Sa'id bin Mansur)

" Didiklah anak-anakmu pada tiga hal: mencintai Nabimu, mencintai ahli baitnya, dan membaca Al Qur'an." (HR. Ath Thabrani)

"Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sebelum ia ditanya tentang empat hal: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia rusakkan, tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa ia menafkahkannya, dan tentang ilmunya yang ia amalkannya." (HR At Tirmidzi)

Bertolak dari petunjuk-petunjuk Al Qur'an dan hadis Nabi di atas, para pendidik betul-betul menaruh perhatian yang sangat besar terhadap persoalan pendidikan anak-anak mereka dari generasi ke generasi, mereka juga sangat memperhatikan pengajaran dan bimbingan untuk meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada anak mereka.

Berikut penulis sampaikan kisah dan berita orang-orang terdahulu, akan perhatian yang sangat besar dari para ulama salaf serta kemauannya yang sangat kuat untuk mengajar dan mendidik anak mereka.

 

Al Jahizh telah meriwayakan bahwasanya ketika 'Uqbah bin Abi Sufyan menyerahkan anaknya kepada seorang guru, ia mengatakan," Hendaklah yang pertama kali Engkau lakukan untuk memperbaiki anakku adalah memperbaiki dirimu sendiri, karena penglihatan mata mereka adalah tertumpu pada penglihatanmu; apa yang baik pada mereka adalah apa yang menurutmu dianggap baik, dan yang jelek pada mereka adalah apa yang menurutmu dianggap jelek. Ajarkanlah kepada mereka biografi orang-orang bijak dan akhlak orang-orang berbudi; ancamlah mereka dengan diriku dan didiklah mereka tanpa membandingkan dengan diriku; Jadilah Engkau seorang dokter yang tidak memberikan resp obat sampai mengetahui penyakit yang diderita pasien; janganlah Engkau membatasi hanya kepada sesuatu yang tidak bisa aku lakukan, karena sesungguhnya aku telah mempercayakan sepenuhnya akan anakku."

Abdul Malik bin Marwan mengatakan seraya memberikan nasihat kepada guru dari anaknya," Ajarkan kepada mereka kejujuran sebagaimana kamu mengajarkan kepada mereka Al Qur'an; biasakanlah mereka dengan akhlak yang terpuji; bacakan kepada mereka syair-syair agar mereka berani dan bersemangat; ajaklah mereka duduk-duduk bersama orang-orang besar dan para ilmuan; jauhkan mereka dari orang orang yang rendah budinya dan para pelayan, karena mereka adalah orang orang yang paling rendah budinya; hargailah mereka di tempat keramaian, dan tegurlah mereka secara rahasia; pukullah mereka atas perbuatan dusta, karena dusta menarik kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan itu sungguh menarik kepada Neraka."

Umar bin Khaththab r.a. menulis surat untuk penduduk Syam: "Ajarilah anak-anak kalian renang, memanah dan menunggang kuda."

Hisyam bin Abdul Malik berkata kepada seorang guru dari anaknya, Sulaiman Al-Kalbi, "Sesungguhnya putraku ini adalah bagian dari kulit mataku, dan kini telah aku serahkan kepadamu untuk mendidiknya. Oleh karena itu hendaklah kamu selalu bertakwa kepada Allah dan sampaikanlah amanat. Mula-mula yang aku wasiatkan kepadamu, hendaklah kamu membimbingnya dengan Kitab Allah, kemudian kamu bacakan kepadanya syair-syair terbaik; kemudian bawalah ia berkeliling melihat kehidupan bangsa Arab, lalu ambillah syair-syair mereka yang terbaik; ajarkanlah kepadanya satu bagian tentang halal dan haram, berpidato dan berperang."

 

Yang telah disebutkan diatas adalah sekelumit dari pelajaran yang dapat diambil dari besarnya perhatian, baik dari orang-orang khusus maupun awam tentang pendidikan anak-anak mereka, tentang memilih pendidik yang terbaik bagi mereka serta nasihat mereka tentang prinsip-prinsip pendidikan yang benar, tentang dasar-dasar pendidikan yang praktis dan utama. Karena mereka merasa sebagai orang yang bertanggung jawab atas anak-anaknya. Semoga.

Comments
Add New Search
Ifa  - Tanggapan   |110.139.20.xxx |2011-02-24 18:55:46
Mantap, tapi pusing deh liat hadistnya....
sulthan m.z.k   |110.139.17.xxx |2011-02-27 01:51:10
waw
hardito joko raharjo  - bagus,pakk   |202.152.243.xxx |2011-03-06 18:49:38
ayat2nya sngat mempesona dan hadistnya sngat menawan!!!!!!!salam dito
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."