Memahami Karakteristis Siswa SD Dalam Pembelajaran
Setiap tahun berganti, berganti juga penghuni kelas. Perbedaan-perbedaan pasti akan terjadi di setiap tahunnya. Berbagai macam karakteristik siswa dengan semua kelebihan dan kekurangannya. Tahun kemarin berbeda dengan tahun sekarang, Tahun kemarin anak-anakku senang dengan pelajaran berbau seni terutama mewarnai atau menggambar. Mereka menikmati dan asyik dengan pelajaran yang di depan mereka.
Sekarang, sedikit ada perubahan tahun ini. Saat mengerjakan tugas untuk mewarnai dan menggambar yang keluar dari mulut mungilnya “akkkkhhhh” dan mereka tampak tidak menyukai. Mereka lebih suka pada pelajaran daripada seni. Disilah perbedaan masing-masing karakteristik siswa.
Masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira usia sebelas tahun atau dua belas tahun. Karakteristik utama siswa sekolah dasar adalah mereka menampilkan perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan bidang, di antaranya, perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan bahasa, perkembangan kepribadian dan perkembangan fisik anak.
Menurut Erikson perkembangan psikososial pada usia enam sampai pubertas, anak mulai memasuki dunia pengetahuan dan dunia kerja yang luas. Peristiwa penting pada tahap ini anak mulai masuk sekolah, mulai dihadapkan dengan tekhnologi masyarakat, di samping itu proses belajar mereka tidak hanya terjadi di sekolah.
Menurut Piaget ada lima faktor yang menunjang perkembangan intelektual yaitu : kedewasaan (maturation), pengalaman fisik (physical experience), pengalaman logika matematika (logical mathematical experience), transmisi sosial (social transmission), dan proses keseimbangan (equilibriun) atau proses pengaturan sendiri (self-regulation). Erikson mengatakan bahwa anak usia sekolah dasar tertarik terhadap pencapaian hasil belajar.
Seperti dikatakan Darmodjo (1992) anak usia sekolah dasar adalah anak yang sedang mengalami pertumbuhan baik pertumbuhan intelektual, emosional maupun pertumbuhan badaniyah, di mana kecepatan pertumbuhan anak pada masing-masing aspek tersebut tidak sama, sehingga terjadi berbagai variasi tingkat pertumbuhan dari ketiga aspek tersebut. Ini suatu faktor yang menimbulkan adanya perbedaan individual pada anak-anak sekolah dasar walaupun mereka dalam usia yang sama.
Disilah tugas seorang guru, mereka harus bisa menyelami setiap berbedaan karakteristik setiap anak di kelas. Setiap anak mempunyai kelebihan yang terkadang tidak disadari oleh seorang guru. Seperti yang saya jelaskan di atas, anak-anakku kurang begitu menyukai mewarna dan menggambar. Jika mereka tidak suka pada pelajaran tertentu bukan berarti mereka tidak mau. Pada dasarnya mereka terbawa oleh beberapa faktor, menurut Nasution dalam bukunya (1992) mengatakan bahwa masa sekolah dasar mempunyai beberapa sifat khas sebagai berikut : (1) adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang kongkrit, (2) amat realistik, (3) menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus dan tidak menyukai beberapa pelajaran khusus, oleh ahli yang mengikuti teori faktor ditaksirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor, (4) pada umumnya anak menghadap tugas-tugasnya dengan bebas (5) pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolah, (6) anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk bermain bersama-sama dan mengikuti temannya.
Berdasarkan uraian di atas, anak-anakku meskipun mengatakan “akkkkk” atau “malas mewarnai” bisa dikelompokkan dalam katagori (6) yaitu : anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk bermain bersama-sama dan mengikuti temannya. Ini suatu faktor yang menimbulkan adanya perbedaan individual pada anak-anak sekolah dasar pada umumnya dan khususnya pada setiap karakter individu anak yang suka mengikuti teman walaupun mereka dalam usia yang sama. Dengan terbentuknya karakter setiap anak akan mempengaruhi karakteristik kelas.
Dengan karakteristik siswa yang telah diuraikan seperti di atas, guru dituntut untuk dapat mengemas perencanaan dan pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa dengan baik, menyampaikan hal-hal yang ada di lingkungan sekitar kehidupan siswa sehari-hari, sehingga materi pelajaran yang dipelajari tidak abstrak dan lebih bermakna bagi anak. Selain itu, siswa hendaknya diberi kesempatan untuk pro aktif dan mendapatkan pengalaman langsung baik secara individual maupun dalam kelompok.
Oleh : Yeni Endang, S.Pd, guru SD Khadijah 2 Surabaya
| Comments |
|
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||


